Pencarian
Banner
PPDB 2017Unpad
Jajak Pendapat
Bagaimana Program SMA Kewirausahaan di SMAN 3 Cimahi?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu
  Lihat
Pelayanan/Fasilitas SMAN 3 Cimahi thn. pelajaran 2016/2017, Favorit Anda?
UN Berbasis Komputer (UNBK)
LCD Projector setiap kelas
(Smart Kartu Pelajar) Absensi
E-Learning Pembelajaran Online
Hotspot tiap kelas
  Lihat
Kegiatan UKS di SMAN 3 Cimahi ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
  Lihat
PTN Favoritmu di Bandung?
ITB
UNPAD
UPI
UIN
  Lihat
Statistik
  Visitors : 1366226 visitors
  Hits : 950 hits
  Today : 1 users
  Online : 1 users

:: Kontak Admin ::

PIN : yugo2588
Agenda
24 May 2018
M
S
S
R
K
J
S
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Antara Hafal, Paham, dan sudut pandang dalam belajar

Tanggal : 11-06-2016 20:44, dibaca 949 kali.

Permasalahan utama yang sering muncul dalam dunia pendidikan ini, khususnya pada kalangan pelajar adalah bagaimana belajar yang baik agar materi dapat terkuasai secara optimal. Seperti apa yang telah kita ketahui, banyak pelajar yang tidak lulus ulangan hanya karena mereka tidak menguasai materi yang telah disampaikan. Lalu bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Apakah karena mereka tidak mau membaca, atau selera guru yang kurang cocok? Tentu tidak . Pada kenyataannya banyak pelajar yang sering membaca sebelum ulangan namun mereka tidak lulus KKM. Bahkan ada pula pelajar yang jarang membaca namun selalu mendapatkan nilai yang lebih dari KKM. Perlu kita ketahui, bahwa diantara mereka yang selalu remedial ulangan adalah mereka yang tidak “paham” terkait topik yang dibahas dalam pembelajaran. Banyak orang yang sering membaca tanpa menganalisis maksud dari bacaan yang mereka baca, sehingga saat ulangan, mereka lupa karena konsep yang dibaca hanya sedikit yang terserap. Adapun orang yang selalu “menghafal”, mereka terkadang mendapat nilai yang kurang karena lupa dengan konsep yang telah mereka hafali. Mungkin inilah hal yang sering terjadi namun belum disadari. Orang yang “paham” dengan orang yang “hafal” sungguh berbeda. Bagaimanapun bentuk soalnya, orang yang memahami materi akan bisa menyelesaikannya dengan mudah. Berbeda dengan orang yang selalu menghafal materi, sedikit saja bentuk soalnya diubah, mereka tidak bisa menyelesaikannya karena tidak sesuai dengan apa yang mereka hafal. Menurut saya, sesunggguhnya metode belajar dengan menghafal kurang efektif. Menghafal disini maksudnya adalah menghafal kalimat, menghafal cara, menghafal rumus, dan sebagainya. Karena materi pelajaran akan terasa lebih ringan bila kita memahaminya, dan bukan menghafalnya. Misalkan, kita akan menentukan besarnya gaya pada sebuah mobil bermassa 75 kg yang bergerak dengan kecepatan konstan. Jika kita paham, maka kita akan langsung menjawabnya dengan jawaban “nol”. Karena pada kecepatan “konstan”, tidak akan ada percepatan karena tidak ada perubahan kecepatan. Karena tidak ada percepatan, maka gaya yang dihasilkannya pun tidak akan ada (nol), sesuai hukum newton pertama.

 

Hafalan

Gambar source: http://bangkudepan.com/pendidikan-indonesia-generasi-hafalan/

Selain itu, perlu kita ketahui pula bahwa belajar dengan “menghafal” tidak sepenuhnya salah. Terkadang, metode “menghafal” sangat diperlukan dalam menyingkat suatu materi. Misalkan pada deret volta, kita bisa menyingkatnya dengan kata kata yang mudah kita kenali. Atau sepercik pada tahap pembelahan meiosis, kita bisa menyingkatnya dengan LaZiPakDiDia yang artinya laptoten, zigoten, pakiten, diploten, dan diakinesis. Dengan menghafal singkatan singkatan materi yang sebelumnya telah dipahami, hasil belajar kita akan terasa lebih optimal.

Perbedaan lain yang membedakan antara hafal dengan paham adalah “cara” nya. Saat kita mencoba menghafal dua sampai tiga paragraf materi, kita harus membaca berulang ulang dan mencoba mengingatnya. Berbeda halnya jika kita mencoba memahaminya. Kita hanya cukup mendengarkan penjelasan guru yang sedang menerangkan dengan cukup serius. Kemudian kita cermati materi materi dalam buku pelajaran, internet, ataupun dalam praktikum.

Mungkin diantara kita ada yang mencoba memahami materi namun selalu tidak terkuasai. Sebenarnya, tingkat penguasaan seseorang terhadap suatu materi bergantung pada apa yang dia fikirkan. Misalkan, jika seseorang berfikir bahwa fisika itu sulit, maka sampai kapan pun mereka akan memercayai bahwa fisika itu sulit. Kemudian jika kita berfikir bahwa matematika itu hal yang mudah, maka kita percaya bahwa kita bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang ada di dalam matematika. Fakta mengejutkan datang dari seorang guru sekaligus pemilik bimbel. Di Bimbelnya (sebut saja bimbel “X”), dia hendak meneliti apa yang dipermasalahkan muridnya sehingga mereka mendapatkan nilai rendah. Dalam suatu kelas, terdapat anak anak yang menyukai matematika namun tidak menyukai fisika. Kemudian sang guru mencoba memisahkan mereka dalam dua kelas yang berbeda dan memberi mereka soal. Di kelas pertama, sang guru memberi soal matematika kemudian menamai soal tersebut dengan nama soal fisika. Sedangkan di kelas kedua, dia memberikan soal fisika tapi dinamai soal matematika. Tentu saja, sang guru mempertimbangkan tipe soal seperti apa yang cocok agar kedua tipe soal tersebut bisa saling ditukar. Setelah murid murid nya mengerjakan soal soal manipulasi yang telah dia buat, kemudian dia memeriksanya dan  terkejut. Ternyata, Nilai yang diperoleh di kelas pertama jauh lebih kecil dibandingkan dengan kelas yang kedua. Padahal, mereka hanya diberi soal matematika yang diganti nama soalnya menjadi soal fisika. Sedangkan di kelas kedua, mereka mendapatkan nilai yang jauh lebih tinggi dari kelas pertama. Jika kita perhatikan, mereka semua baik kelas pertama maupun kelas kedua adalah murid yang menyukai matematika tapi tidak menyukai fisika. Namun setelah mereka diberi soal matematika yang dinamai soal fisika, mereka mendapat nilai rendah. Sedangkan mereka yang diberi soal fisika yang dinamai soal matematika, mereka mendapatkan nilai tinggi. Hal tersebut bisa terjadi karena mereka menganggap fisika itu sulit. Sehingga ketika mereka diberikan soal matematika yang diganti namanya menjadi soal fisika, mereka mendapat nilai rendah.  Berdasarkan peristiwa tersebut, dapat kita simpulkan bahwa apa yang kita fikirkan menentukan apa yang akan terjadi. Jika kita berfikir bahwa kita bisa, maka kita akan bisa. Namun jika kita berfikir bahwa kita tidak bisa, sampai kapan pun kita tidak akan bisa ! Maka berfikirlah bahwa kita bisa agar kita selalu bisa !!

Itulah beberapa opini saya tentang hafal, paham, dan sudut pandang dalam belajar. Semoga memotivasi dan menjadi inspirasi.  

 

 

 

~Cahya Kusmiawan

(Lulusan Tahun 2016 Smaluchi - Mahasiswa ITB)



Pengirim : Cahya Kusmiawan
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim :